Home >> Berita Jatim >> Hujan di saat Harga Tembakau Meroket

Hujan di saat Harga Tembakau Meroket

Sungguh di luar harapan, di saat harga tembakau meroket tiba – tiba hujan turun. Inilah yang dialami oleh ratusan petani yang berada di Ngangkrik Kidul, Desa Gebangangkrik, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan.

Di saat para petani sedang semangatnya menikmati harga tembakau yang semakin mahal tak disangka hujan pertama di musim kemarau turun. Hujan menjadi momok sendiri bagi petani khususnya hujan di bulan September. Yang mana, pada bulan ini petani tengah sibuk – sibuknya memanen tembakau mereka.

Biasanya pada bulan September atau petani biasa menyebut ulan songo, harga tembakau berada di titik harga yang bagus – bagusnya. Di dusun ngangkrik kidul saja pada akhir September ini, harga tembakau sudah menyentuh Rp 35.000,- perkilo untuk tembakau kering.

Selain harga tembakau meroket, seharusnya menurut petani pada bulan September ini merupakan puncak dari musim kemarau atau panas – panasnya musim yang cocok untuk menjemur tembakau. Namun siapa yang menyangka, di saat para petani tengah sibuk memotong dan menjemur tembakau tiba – tiba sebelun adzan dzuhur kemarin hujan turun di dusun ngangkrik kidul (Minggu, 24 September 2017).

Warga sebenarnya sudah memprediksi hujan akan turun kemarin. Menurut salah satu petani tembaku dusun ngangkrik kidul, Jenek, sejak dini hari kemarin langit seakan sudah gerimis. Jadi para petani tembakau di sana sudah bersiap sejak malam hari.

“langit sudah terlihat gelap, gerimis seperti sudah turun saja,” ujar petani bertubuh tinggi ini.

Namun hingga tengah hari, langit masih sangat bersahabat bagi petani. Cuaca terik sungguh sangat bagus untuk menjumur tembakau. Namun, sesaat sebelum adzan dzuhur berkumandang segerombolan orang terlihat berlarian ke sana kemari. Mereka berniat mengamankan tembakau dari gerimis hujan.

Setelah tembakau di tumpuk, hujan pun tidak jadi turun. Warga yang sudah tergopoh – gopoh pun menghentikan aktivitasnya untuk mengamankan tembakau. Angin pun bertiup kembali. Sebagian warga percaya hujan tidak akan turun.

“angin kok, tidak jadi hujan!,” Sugeng, petani tembakau yang lain berteriak.

Sebagian warga yang tadinya sudah menumpuk tembakau kering yang dijemur di atas kemudian mengembalikan kembali tembakau ke atas plandangan (alat yang digunakan untuk meletakan tembakau kering di atas tempatnya).

Siapa yang mengira langit yang sudah cerah tiba – tiba turun hujan dengan intensitas yang cukup deras. Warga pun berlarian saling bahu membahu menyelamatkan tembakau kering. Tidak berhenti di situ saja, tembakau yang sudah diteduhkan tidak boleh ditumpuk lama – lama. Sebab, warga tembakau akan rusak apabila berada dalam tumpukan yang lama.

Salah satu warga memiliki cara untuk mengamankan warna tembakau agar tidak rusak yaitu dengan cara ditumpuk tetapi bagian tengahnya diberi pipa paralon sehingga aliran udara masih mengalir di tengah tumpukan. Cara seperti ini cukup efektif untuk mengalirkan suhu panas yang keluar dari tumpukan tembakau.

Leave a Reply