Home >> Lamongan >> Miris, Krisis Air Melanda Petani Di Lamongan
Krisis air

Miris, Krisis Air Melanda Petani Di Lamongan

Musim kemarau adalah musim yang sangat memilukan terutama bagi para warga desa yang setiap harinya memiliki pekerjaan di lahan pertanian. Sebagai petani maka sudah sewajarnya bila air memiliki kedudukan yang paling kuat sebagai penentu berhasil atau tidaknya lahan pertanian yang mereka garap menjadi pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya.

Pada bulan-bulan ini, adalah bulan di mana air susah di cari atau biasa di sebut dengan musim kemarau, mayoritas warga di berbagai daerah banyak sekali yang mengeluhkan tentang krisis air bersih dan juga krisis air untuk mengairi lahan pertanian mereka, sehingga hal ini pun turut membuat pemerintah setempat ikut ulur tangan untuk membantu para warga demi memberikan layanan yang terbaik bagi warganya.

Berbagai upayapun di lakukan pemerintah setempat di berbagai daerah yang warganya mengeluhkan krisis air akibat musim kemarau yang melanda mereka, upaya yang di lakukan oleh PemKab setempat adalah pemberian air bersih gratis, pemberian air minum gratis, dll. Sehingga dampak dari krisis air bersihpun dapat sedikit teratasi walaupun belum maksimal. Selain membuat keresahan warga, krisis air bersih juga membuat sebagian warga rela berbondong-bondong mencari aliran air yang tersisa untuk di manfaatkan setiap harinya.

Seperti yang terjadi di berbagai wilayah di Kabupaten Lamongan, yaitu banyak sekali warga desa yang mengeluh akibat sulitnya mencari air untuk mengairi lahan pertanian mereka, sebut saja Dusun Ketapang Kecamatan Karangbinangun, yang mengaku sangat resah dan takut jika terjadi gagal panen. Karena sangking sulitnya mencari sumber air, yang tersisa di desa mereka.

Krisis air di lamongan

Sebagai upaya, para petani setempat nekat membendung sungai Kali Dunung Kidul dan Sungai Kali Dunung Lor yang bermuara atau mengalir di sungai Bengawan Jero. Menurut pengakuan salah satu warga sekitar, hal ini di lakukan karena Sungai Kali Dunung Kidul dan Lor sudah kering atau tidak ada aliran airnya lagi. Padahal notabenenya kebutuhan air tersebuat sangat di butuhkan oleh warga sekitar untuk mengaliri air ratusan hektar tambak yang sedang di tanami padi yang jelas-jelas padi tersebut butuh pasokan air yang cukup banyak.

Salah satu warga sekitar juga turut menjelaskan bahwa upaya untuk mengaliri ratusan hektar lahan mereka adalah dengan cara membendung lalu mengalirkan air dari Sungai Bengawan Jero ke irigasi pengairan sawah milik mereka. Pembendungan ini pun juga di lakukan dengan cara bergotong royong, dan selanjutnya air dari Bengawan Jero di pompa menuju kali Dunung, tak hanya cukup di situ. Para petani yang membutuhkan aliran air di Kali Dungung harus memompa lagi untuk di alirkan ke sawah-sawah milik mereka dengan merogoh kocek yang cukup lumayan.

Kocek yang di butuhkan juga bervariasi mulai dari Rp.10.000 hingga Rp. 15.000 untuk setiap jamnya. Rata-rata para petani mengairi lahan pertanian mereka dengan kurun waktu kurang lebih 5 jam. Kondisi yang seperti ini sudah biasa di alami oleh petani Kecamatan Karangbinangan dan sekitarnya setiap tahunya.

Namun kondisi yang paling memilukan ketika terjadi kekeringan adalah 2 tahun silam yaitu para petani setempat harus merogoh kocek Rp.60.000/jam untuk membeli air dari Bengawan Solo. Sekarang ini masih murah karena yang menangani kelompok, ujar warga lainya. Kini para warga berharap bahwa PemKab Lamongan melalui para instansi terkait segera mengatasi krisis air yang melanda mereka sekian tahun lamanya, sebagai upaya agar di tahun-tahun mendatang tidak terjadi hal yang serupa, sehingga warga tidak perlu merasa resah dan susah atas musim kemarau yang melanda mereka setiap tahunya.

Leave a Reply