Home >> Gaya Hidup >> Kesehatan >> Tari Poco – Poco untuk Penderita Diabetes dan Pikun

Tari Poco – Poco untuk Penderita Diabetes dan Pikun

Pikun atau dimensia bisa menjadi penyakit yang menjengkelkan. Apalagi salah satu anggota keluarga ada yang mengalaminya. Orang pikun kerap kali lupa kalau dia sudah melakukan sesuatu. Contohnya saja dia baru saja makan tapi bilangnya belum makan. Bahkan untuk kasus terparah adalah ada orang pikun yang lupa dengan keluarganya sendiri. dia sudah tidak mengenal anak, istri atau pun suaminya. Sungguh tidak enak bukan kalau pikun ini menjadi bagian dari hidup anda.

Dr. Ria Maria Theresa spesialis kejiwaan sudah dua tahun terakhir telah melakukan penelitian terhadap pencegahan kepikunan. Salah satu upaya untuk bisa mencegah pikun menurutnya adalah dengan tari.

“semua tari bisa mendorong daya ingat dan mencegah pikun,” Dr. Ria Maria Theresa.

Perempuan kelahiran Jakarta, 4 Mei 1966pada awalnya tidak langsung memilih tari poco – poco. Sebelumnya dia berencana menggunakan tari saman asal Aceh. Tetapi karena para respondenya saat itu adalah penderita diabetes, dia khawatir respondenya akan kesulitan jika harus duduk dalam waktu yang lama. Apalagi kebanyakan respondenya berusia 45 – 59 tahun.

Opsi kedua dia berencana menggunakan tari piring asal Minangkabau. Tetapi lagi – lagi karena khawatir respondenya akan membuat piring banyak pecah dia mengurungkan rencananya itu.

Menghadapi kendala dalam pemilihan tari yang cocok untuk para respondenya, Dr Ria Maria Theresa kemudian berkonsultasi dengan para dosen Institute Kesenian Jakarta (IKJ). Akhirnya diputuskan dia memilih tari poco – poco. Tari asal Manado ini menurutnya sangat cocok untuk para penderita diabetes. Tari poco – poco memiliki irama lagu yang asyik dan gerakanya mudah untuk dilakukan.

Menurut Ria, kadar gula berlebih pada penderita diabetes bisa menurunkan fungsi otak. Salah satu dampak dari menurunya fungi otak adalah pikun. Jika kadar gula dalam darah terus tinggi dalam lima tahun berturut – turut makan penderita diabetes bisa pikun lebih cepat.

Ria tidak sembarangan memilih para respondenya. Dia memilih responden dari penderita diabetes yang mengalami hendaya kognitif ringan. gangguan hendaya kognitif ringan menurutnya hampir mengalami pikun. Tetapi belum benar – benar pikun.

Ada sekitar 200 calon responden namun setelah dia saring hanya 48 orang yang dipilih. Namun karena beberapa dari mereka tidak mendapat izin dari keluarganya, hanya tersisa 40 orang yang terpilih. Alasan kenapa keluarga tidak menyetujui adalah karena penderita diabetes tersebut harus melewati proses pencitraan resonansi magnetic (MRI) terlebih dahulu.

Saat pertemuan pertama senam poco – poco diberikan, banyak responden yang belum bisa melakukan gerakanya. Namun setelah jalan beberapa kali, para responden penderita diabetes mulai meresa enjoy dengan gerakanya. Bahkan para penderita diabetes ini minta untuk diulang – diulang lagi tari poco – poconya.

Menurutnya, tari poco – poco mampu merangsang fungsi kognitif otak. Rangsangan gerakan poco – poco ini mampu merangsang pertumbuhan neuron – neuron di dalam otak. Pertumbuhan neuron ini diketahui dari hasil uji MRI pada penderita diabetes. Selain mampu mencegah pikun, manfaat lain dari tarii poco – poco menurutnya adalah memberikan kelenturan pada gerak penderita diabetes. Responden penderita diabetes mengaku sekarang lebih mudah untuk bergerak dan jarang sekali jatuh.

Leave a Reply