Home >> Hukum Kriminal >> Cari Tahu Bagaimana Cara Kerja Joki Fakultas Kedokteran UMM

Cari Tahu Bagaimana Cara Kerja Joki Fakultas Kedokteran UMM

Beberapa hari lalu Polres Malang berhasil membongkar sindikat joki fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Aksi para kawanan joki ini terbilang lihai dan rapi. Namun kehebatan para kawanan joki fakultas kedokteran ini terhenti setelah tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka di ringkus saat proses seleksi penerimaa mahasiswa baru sedang berlangsung.

Yang paling miris dari aksi perjokian ini adalah sang korban joki, empat calon mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga ditetapkan sebagai tersangka.

“empat tersangka ini adalah calon mahasiswa baru yang sedang mengikuti seleksi masuk Fakultas Kedokteran UMM,” menurut pernyataan dari AKP Wahyu Hidayat, Kepala Reserse Kriminal Polres Malang.

Cara kerja sindikat joki ini dimulai dengan mencari calon korban. Mereka adalah para peserta yang sudah mendaftar di Fakultas Kedokteran UMM. Para korban perjokian ini awalnya ditawari untuk kelulusan masuk Fakultas Kedokteran UMM dengan harga tertentu. Menurut AKP Wahyu Hidayat, “harga yang disepakati para peserta yang ingin lolos seleksi masuk Fakultas Kedokteran adalah sebesar Rp 160 juta. Keempat korban perjokian yang kini ditetapkan sebagai tersangka, sudah membayar uang muka sebesar Rp 1,5 juta kepada para joki.” jika para tersangka lulus seleksi maka mereka diminta untuk melunasi Rp 160 juta. Sebagai jaminanya ijazah asli dan kartu keluarga.

Setelah harga deal, sindikat joki tersebut kemudian menjemput keempat tersangka di kosnya. Para joki bahkan juga telah menyiapkan satu villa di kawasan Batu sebagai tempat untuk melakukan briefing atau simulasi singkat kepada empat tersangka. Briefing dilakukan agar para tersangka mengenal piranti khusus yang akan mereka pakai saat seleksi masuk dilaksanakan.

Briefing dilakukan selama satu malam. Para tersangka diajari cara menggunakan piranti tersebut sampai bisa. Setelah keempat tersangka sekaligus calon mahasiswa Fakultas Kedokteran UMM ini memahami fungsi dan penggunaan piranti itu, kemudian piranti tersebut dipasang pada tubuh tersangka.

Untuk mengelabuhi petugas, para tersangka ini memakai sabuk yang terbuat dari logam untuk bisa melewati metal detector. Alat piranti yang digunakan oleh para tersangkat sebenarnya juga bukan merupakan alat canggih. Hanya sedikit modifikasi yang dilakukan oleh para joki terhadap alat tersebut, tutur AKP Wahyu.

Piranti yang dipasang di tubuh tersangka akan memberikan sinyal atau tanda berupa getaran untuk memberikan jawaban kesetiap soal yang dikerjakan. Polisi menduga pengirim jawaban juga sudah memegang naskah soal.

Leave a Reply