Home >> Profil >> Lebih Dekat dengan Taufik Hidayat

Lebih Dekat dengan Taufik Hidayat

Satu decade terakhir Badminton atau bulutangkis merupakan salah satu cabang olah raga yang paling sering mendendangkan lagu Indonesia Raya dikancah Internasional. Hadirnya wakil Indonesia selalu menjadi momok yang menakutkan bagi wakil Negara lain. Salah satu pebulutangkis Indonesia yang menjadi pusat perhatian adalah Taufik Hidayat.

Taufik sebagai pebulutangkis tunggal putra sering kali membawa bendera merah putih berkibar paling atas. Dia juga adalah salah satu pahlawan yang paling sering menyumbang emas. Namun kemilau emas nama Taufik Hidayat di berbagai ajang kejuaraan bulu tangkis tidak diperolehnya dengan mudah. Dia harus merelakan indahnya masa kanak – kanak dan bahkan mimpi yang ingin diraihnya.

Taufik kecil yang saat itu masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar harus menjalani latihan rutin hingga malam. Taufik yang tinggal di pandeglang harus menenmpuh perjalanan yang cukup jauh untuk menuju tempat latihan di Klub Sangkuriang Graha Sarana (SGS) Bandung. Jarak 40 Km antara Pandeglang – Bandung harus ditempuhnya dengan naik kendaraan umum.

Impian Taufik kecil sebenarnya adalah menjadi bintang di lapangan hijau. Dibandingkan dengan bermain Badminton, Taufik lebih senang bermain sepak bola bersama dengan teman sebayanya. Namun kedua orang tuanya yang hobi bermain bulu tangkis lebih memberikan motivasi kepada Taufik untuk bermain badminton.

Motivasi orang tua yang berlawanan dengan impian Taufik membuatnya harus menelan pil pahit namun perjalan yang pahit ini ternyata malah membuahkan hasil yang manis kepada Taufik. Perlahan namun pasti, Taufik kecil yang sudah beranjak dewasa menunjukan talenta yang luar biasa dalam mengayun raket.

Nama Taufik yang semakin naik di kancah perbulutangkisan nasional kemudian membawanya menuju pentas internasional bahkan dia berhasil masuk tim inti bagi Indonesia. meskipun demikian, Taufik saat itu masih menjadi pemain pelapis di bawah nama – nama besar seperti Hendrawan, Maleve Mainaky dan Hariyanto Arbi di kejuaraan Thomas Cup dan SEA Games.

Di tahun 1999, Taufik Hidayat yang saat itu masih berusia 18 tahun berhasil menyabet dua gelar bergengsi yakni emas SEA Games dan Jawara Indonesia Open. Di final perorangan SEA Games, pria kelahiran 10 Agustus 1981 ini harus berhadapa dengan pebulutangkis hebat asal Malaysia, Wong Choong Hann. Di Indonesia Open dia menghadapi lawan hebat rekanya sendiri di pelatnas, Budi Santoso.

Setelah berhasil meraih dua gelar tersebut, nama Taufik Hidayat menjadi buruan para wartawan. Tidak hanya jurnalis lokal, para jurnalis internasional pun ingin memburu beritanya.

Dengan semangat mudanya, setahun kemudian Taufik Hidayat kembali mengangkat nama Indonesia di berbagai kejuaraan bulu tangkis. Dia berhasil menjadi juara individu di ajang Malaysia Open, Badminton Asia Championship dan Indonesia Open. Penampilan yang luar biasa dari Taufik Hidayat memastkan gelar juara bagi Indonesia di kejuaraan Thomas Cup yang digelar di Malaysia.

Taufik Hidayat kini sudah pension dari bulutangkis. Di masa karirnya dia berhasil meraih 39 gelar internasional. Namun masih ada tiga kejuaraan yang belum berhasil diraihnya yakni Sudirman Cup, China Open dan All England. Meskipun demikian enam mahkota Indonesia Open menunjukan betapa luar biasanya talenta pria asal Pandeglang ini.

Taufik Hidayat saat ini belum benar – benar meninggalkan bulutangkis. Hingga kini dia masih aktif di bulu tangkis dengan mendirikan pusat latihan bulutangkis yang diberi nama Taufik Hidayat Arena (THA) di Ciracas, Jakarta Timur.

Leave a Reply