Home >> Berita Jatim >> Presiden Tetap Andalkan Jatim jadi Lumbung Padi Nasional
Pakde Karwo dan Presiden Jokowi dialog dengan warga
Pakde Karwo dan Presiden Jokowi dialog dengan warga

Presiden Tetap Andalkan Jatim jadi Lumbung Padi Nasional

Provinsi Jawa Timur masih menjadi andalan sebagai lumbung padi nasional. Karena itu, sejumlah bendungan yang belum beroperasi secara optimal harus segera diperbaiki agar dapat mengairi lahan sawah yang kering, sehingga produksi padi di Jatim menjadi lebih maksimal.

Hal itu ditegaskan Presiden Ri, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi saat meninjau normalisasi bendungan Budengan di Desa Legundi, kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, akhir Januari lalu.

Jokowi mengatakan, Jatim merupakan provinsi yang produksi padinya sangat bagus sehingga menjadi prioritas utama dalam mewujudkan misi swasembada pangan. Karena itu, ia lebih fokus melaksanakan normalisasi bendungan yang sudah ada daripada membangun bendungan baru.

“Kalau membangun bendungan baru, butuh waktu 3-4 tahun… padahal kita sedang kejar target, karena itu, fokus utama kita adalah mengidentifikasi dimana ada bendungan-bendungan yang perlu dikeruk, diperbaiki, aliran tersiernya juga segera dibuat agar airnya bs masuk ke sawah. Salah satunya bendungan Budengan” jelasnya.

Jokowi menambahkan, karena begitu pentingnya peran bendungan Budengan bagi pertanian di Jatim, khususnya Ngawi. Ia minta dalam dua minggu normalisasi bendungan Budengan harus sudah rampung. “Saya minta 2 minggu selesai, saya optimis bisa dicapai karena disini TNI, Polri, dan warga ikut bekerja. Ini baru namanya kerja..kerja.. dan kerja” tuturnya.

Senada dengan Jokowi, Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo juga optimis Jatim masih menjadi lumbung padi nasional. Pakde Karwo, sapaan akrabnya mengatakan, produksi padi Jatim pada 2014 tertinggi secara nasional mencapai 12,3 juta ton dari luas panen sebesar 2.056.192 ha. Sementara ketersediaan beras mencapai 8,5 Juta Ton, konsumsi 3,4 Juta Ton Beras, dan surplus 5,1 Juta Ton Beras.

Pakde Karwo melanjutkan, normalisasi bendungan Budengan mendapat dukungan penuh dari Pemprov Jatim. “Kami siap mendukung target bapak Presiden agar bendungan ini segera rampung. Karena ini demi kesejahteraan masyarakat Jatim, dan Ngawi pada khususnya” ujarnya.

Bendungan Budengan dibangun pada 1971 dengan luar penyangga lahan pertanian seluas 1.593 ha untuk mengaliri sebanyak 14 desa di 3 kecamatan (Karangjati, Pangkur dan Kwadungan). Bendungan tersebut sejak 1982 belum pernah dilakukan pengerukan, akibatnya terjadi penumpukan sedimen (lumpur) sehingga hanya 10 desa yang sawahnya bisa dialiri air.

Ditargetkan, setelah dilakukan pengerukan sedimen, diharapkan terjadi kenaikan luas tanam sebesar 849 ha yang berakibat pada naiknya produktivitas padi. Jika produktivitas padi sebesar 6,5 ton/ha maka ada tambahan sebanyak 5518,5 ton GKP atau ada tambahan pendapatan sebesar Rp. 22.074.000.000.

Pada saat peninjauan tersebut, Jokowi dengan didampingi Pakde Karwo melakukan dialog dengan warga dan petani yang sedang melakukan pengerukan bendungan. Keramahan dua pimpinan tinggi negara tersebut mendapat sambutan hangat dari warga

Leave a Reply