Home >> Berita Jatim >> Jatim Akan Kembangkan Kedelai Genetika
Kunjungan Perwakilan Pemprov Jatim saat di US
Kunjungan Perwakilan Pemprov Jatim saat di US

Jatim Akan Kembangkan Kedelai Genetika

Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jawa Timur) akan mengembangkan rekayasa genetika untuk mengembangkan tanaman pangan jenis kedelai. Langkah ini dilakukan untuk mengejar produksi kedelai Jatim yang belum mencukupi kebutuhan di dalam provinsi.

Hal itu diungkapkan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Jatim, Hadi Prasetyo, saat berkunjung ke pusat riset dan pengembangan gen, Orion Genomics, di 4041 Forest Park Avaneue, St. Louis, Selasa (2/12).

“Sebenarnya kita mendapat tawaran melakukan penelitian bersama untuk mencari bibit unggul kelapa sawit, melalui pemetaan gen. Namun kami berpikir lebih baik mengembangkan bibit kedelai unggul, atau kopi dan jenis tanaman lain yang punya potensi ekonomi,” kata dia.

Hadi menjelaskan, hasil kedelai Jatim 337 ribu ton telah berkontribusi 30 persen dari hasil nasional, namun masih belum bisa mencukupi kebutuhan lokal sendiri.

“Kita harus mengambil langkah cepat mengatasi kekurangan kedelai ini, salah satunya menggunakan fasilitas penelitan di sini. Upaya ini perlu untuk menemukan bibt kedelai yang berkualitas dan cocok ditanam di Jatim,” paparnya.

Menurut dia, langkah menggunakan teknologi pertanian Amerika Serukat ini merupakan salah satu strategi untuk mengatasi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

“Realistis saja, secara dana dan SDM kita belum mampu untuk berkolaborasi dalam penelitian ini. Maka kita akan memobilisasi swasta sebagai pemilik modal, mereka akan tertarik karena hasilnya akan menguntungkan,” terang dia.

Senior Scientist and Genome Technologies Program Director, Southeast Asia, M. Arief Budiman dari Orion Genomics, mengatakan, Pemerintah Indonesia umumnya, dan Jatim pada khususnya perlu menggunakan riset genetika untuk mengatasi masalah pangan.

“Melalui pemetaan gen dapat diketahui kelebihan dan kekurangan setiap sequence DNA. Untuk kedelai, kita bisa meneliti berbagai jenis yang ada, lalu membuang kelemahannya lalu mengumpulkan kelebihannya dengan kawin silang dan menanamnya di Indonesia,” kata dia.

Dia menjelaskan, meski demikian upaya tersebut akan membutuhkan waktu dan biaya besar.

“Sebagai contoh untuk menemukan bibit kelapa sawit unggul untuk Malaysia, kami perlu waktu lebih dari 5 tahun dan biaya puluhan miliar rupiah. Namun hasil produktivitas yang berkalilipat dan tahan penyakit, dapat menutupi biaya penelitian dengan cepat,” kata dia.

Budiman menambahkan, pembangunan SDM sektor pertanian untuk keperluan riset mutlak diperlukan oleh negara agraris seperti Indonesia.

“Jauh lebih murah bila dilakukan tenaga sendiri, meski harus membeli peralataannya. Investasi yang paling berharga untuk bidang pertanian adalah SDM, pemerintah tidak perlu segan melakukannya, karena masih banyak potensi jenis tanaman lain yang punya nikai ekonomi tingggi di Indonesia,” katanya.

Leave a Reply