Home >> Berita Jatim >> Santri LDII dibekali UINSA dengan Metodologi Dakwah
UINSA Bekali Santri LDII dengan Metodologi Dakwah

Santri LDII dibekali UINSA dengan Metodologi Dakwah

Saat berkunjung ke Pondok Pesantren Walibarokah, Burengan, Kediri, Ketua Umum Asosiasi Dai se-Indonesia, Prof. Dr. KH. Ali Aziz, M.Ag dan Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof. Dr. H. Ali Mufrodi menyempatkan untuk berbagi materi metodologi dakwah.

Materi tersebut bisa berguna untuk meningkatkan kompetensi para santri di Pondok Pesantren yang di bawah naungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

“Syarat menjadi mubaligh dan mubalighot yaitu antusias dalam berdakwah, suara harus jelas dan penuh percaya diri. Selain itu, memiliki jasmani yang sehat. Kemudian menciptakan hubungan sambung rasa dalam berdakwah agar para jamaah bisa memahami dari dakwah yang disampaikan,” terang Ali Aziz dalam ceramah metodologi dakwah di Pondok Pesantren Walibarokah, Minggu, (10/1 2016).

Ali Azis menambahkan bahwa harus memperhatikan juga dalam memilih kata. Dalam menyampaikan dakwah, haruslah memilih kata dengan matang dan tepat agar jamaah dapat memahami maksud dakwah dengan cepat. Sehingga jamaah dapat mengolah sendiri kata per kata yang disampaikan oleh pengajar.

Dalam kesempatan tersebut Ali Mufrodi berpesan kepada santri dan santriwati supaya selalu meluruskan niat karena Allah. Kemudian, dalam berdakwah supaya mempersiapakan meteri dan menyesuaikan latar belakang jamaahnya.

“Jangan lupa, dakwah itu berkelanjutan. Tidak bisa hanya sekali atau dua kali saja. Bagi mubaligh dan mubalighot supaya memiliki akhlak yang baik. Agar dakwah yang disampaikan sama seperti yang kita lakukan sehari – hari,” pungkas Ali Mufrodi.

Kunci utama dalam berdakwah sebenarnya hanyalah memberikan pencerahan dan peringatan bagi umat Islam. Karena umat islam terkadang lupa atau bahkan tidak tahu dalam hal ilmu agama. Itulah, yang menjadi tugas para mubaligh untuk memberikan petunjuk

Jadi, dalam mencari ilmu di pondok pesanter para santri dan santriwati haruslah memiliki motivasi yang kuat untuk memperjuangkan agama Islam yang rahmatan lil’alamin.

“Kunci dalam memberikan dakwah Islam adalah kasih sayang. Itu menunjukan kepedulian umat islam kepada sesama antar umat beragama,” papar Dr. H. Sahid HM, M.Ag yang masih aktif sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UINSA Surabaya.(ali)

Leave a Reply