Home >> Rubrik Remaja >> Persetan Dengan Jarak
Long distance relationship

Persetan Dengan Jarak

Long distance relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh , yups begitulah orang-orang menyebutnya. Sebuah kisah cinta yang penuh dengan cerita. Cerita tentang kesetiaan, pengorbanan, kesabaran, kedewasaan, perselingkuhan, hingga cerita tentang cinta yang putus di tengah jalan. Memutuskan untuk tetap bersama dalam satu ikatan tanpa saling memandang adalah hal yang sangat luar biasa. Meskipun untuk menjalaninya seseorang itu harus bisa sekuat tenaga mengalahkan cemburu yang datang pada saat melihat pasangan-pasangan lain di luar sana yang saling menggenggam tangan dan ia hanya bisa menggenggam angan untuk sebuah pertemuan. Meski seseorang itu juga harus melawan rindu yang menerpa setiap saat.

Memutuskan untuk tetap bersama dalam satu ikatan saat raga saling berjauhan itu adalah hal yang sangat luar biasa. Meski untuk menjalaninya kita harus siap mendengar cerita-cerita miring dari orang lain tentang nasib dari seseorang yang Ldr, tentang hadirnya orang ketiga. Dalam hubungan ini juga lebih banyak menguras perasaan jika mengingat semua pengorbanan yang sudah ia berikan untuk mencoba mengerti satu sama lain dan tetap saling percaya satu sama lain.
Dalam sebuah hubungan ini banyak sekali orang yang takut untuk menjalaninya, sehingga akhirnya mereka ragu untuk tetap saling mempertahankan hubungan ini. Dan akhirnya timbul berbagai macam pertanyaan, “untuk apa kita menjalani sebuah hubungan yang seperti ini jika akhirnya akan sendiri lagi?” “untuk apa kita tetap bersama jika ini hanya akan menjadi kesedihan yang tertunda?”
Semua orang tahu apa itu long distance relationship tetapi hanya mereka yang menjalankan hubungan ini yang mengerti pasti rasanya menjalani kisah cinta jarak jauh. Mereka bahagia dengan hubungan ini tapi terkadang mereka juga bisa sangat menderita. Mereka mencoba untuk saling percaya tapi tak bisa mengelak dari rasa curiga, membayar rindu lewat suara di ujung telepon atau tatap langsung dengan video call tetapi itu tidak akan bisa menggantikan tatapan mata secara langsung, pesan singkat untuk selalu menguatkan akan terasa hambar tanpa sebuah pelukan hangat. Apalagi saat sebuah masalah melanda, berusaha menyelesaikannya lewat telepon justru kadang hanya memperburuk keadaan.
Pada akhirnya terlintas dalam pikiran mereka bahwa hubungan mereka ini seperti omong kosong belaka. Mereka saling mengikat janji tetapi seperti tidak saling memiliki, mereka saling mencintai tetapi selalu sendiri. Jadi, apa beda nya dengan para single lain? Pikiran-pikiran itu akhirnya membuat mereka semua merasa lelah dengan semua ini. Bicara itu sangat mudah, berjanji pada diri sendiri di dalam hati juga tidak sulit. Tapi tidak ada yang tahu betapa tersiksanya menjalani hubungan ini kecuali mereka yang menjalaninya. Tersiksa dengan rasa cemburu, curiga, kekhawatiran, rasa khawatir akankah hubungan ini akan menjadi akhir yang bahagia atau sama saja dengan korban Ldr yang lainnya. Sungguh persetan dengan jarak.

Leave a Reply