Home >> Celoteh >> Malangnya Nasib Garam di Pulau Garam. Simak Artikelnya!
Malangnya Nasib Garam di Pulau Garam. Simak Artikelnya!

Malangnya Nasib Garam di Pulau Garam. Simak Artikelnya!

Pulau Garam? Emang Ada. Iya, Pulau Garam. Pulau garam ini terletak di Pulau Madura. Mengapa harus disebut pulau garam? Perlu kalian ketahui bahwa 60% dari keseluruhan pasokan garam di Indonesia berasal dari Pulau Madura. Maka sebab itu mengapa Pulau Madura dianggap sebagai Pulau Garam.

Pulau yang hanya memiliki luas 10% dari jumlah luas daratan Pulau Jawa ini, jangan anggap remeh. Sebab berbicara tentang garam di Indonesia. Garam yang dihasilkan dari Pulau Madura ini memang garam terbaik nomor 1 di Indonesia.

Masyarakat yang mempunyai kultur budidaya garam begitu kuat serta pernah mencapai kejayaan yang hebat, membuat perdagangan garam di Pulau Madura cukup terkenal. Namun, karena memang produksi garam yang dihasilkan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri. Maka pemerintah Indonesia terpaksa harus mengimpor garam dari luar negeri, yaitu dari negara Cina, India, dan Australia.

Padahal, secara geografis, negara Cina dan India adalah negara yang mempunyai wilayah kecil. Lahan untuk menghasilkan garamnya pun tidak seluas lahan yang ada di Indonesia. Ternyata, dari permasalahan di atas itu bukan karena satu masalah yang datang tanpa sebab. Melainkan mempunyai beberapa penyebab masalah sehingga permasalahan di atas tersebut semakin rumit.

Pasalnya, penyebab utama dari tidak maksimalnya produksi garam di Indonesia itu disebabkan karena pemanfaatan lahan garam potensial belum sepenuhnya 100%. Dari total keseluruhan 68.754,16 hektar lahan garam potensial, pada tahun 2009 hanya baru sekitar 25.702,06 hektar saja yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dan sayangnya sisanya tidak dimanfaatkan sepenuhnya.

Lahan yang tersisa seluas 25.702,06 hektar ini tersebar di 9 provinsi di Indonesia yaitu, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Dapat diketahui pemanfaatan lahan garam di Indonesia diperkirakan masih digunakan baru sekitar 37,4%.

Penyebab kedua, lemahnya para petani garam yang tidak dapat mengahasilkan garam berkualitas unggul. Seperti halnya garam yang dihasilkan oleh PT. Garam (persero) Indonesia. Hingga saat ini kualitas produksi garam petani, kualitasnya masih kalah dengan hasil garam produksi dari PT. Garam yang masih dianggap nomor satu di Indonesia.

Hal ini mengakibatkan efek buruk buat para petani garam di Indonesia. Karena minimnya kualitas garam yang dihasilkan, membuat penjualan garam petani yang ada di Indonesia rendah akibat dari rendahnya kualitas garam. Yang berakibat para petani seringkali mengeluhkan soal kesejahteraan. Apalagi posisi petani garam itu hanya sebagai penggarap lahan. Bukan sebagai pemilik lahan.

Ketiga, harga garam yang di impor relatif murah, yang menyebabkan garam lokal terpaksa mengikuti harga. Murahnya harga garam impor membuat para petani garam makin kian menjerit. Mengingat kualitas garam yang dihasilkan masih dinomor sekiankan.

Yah, begitulah Malangnya Nasib Garam di Pulau Garam. Terutama produksi garam yang ada di Indonesia ini, semakin memburuk. Yang jelas. Untuk para petani garam di Indonesia jangan sampai terkalahkan oleh garam impor. Mari sepenuhnya manfaatkan lahan garam yang belum optimal penggunannya di Indonesia tercinta ini! Tentu dengan dukungan dari pemerintahan Indonesia terutama Dinas Kelautan Perikanan atau Pemerintah terkait.

Terima Kasih Sudah Menyempatkan Membaca artikel yang Sudah Saya Tulis ini.

Sampai Jumpa, Pada Artikel Saya Berikutnya!!

Leave a Reply