Home >> Celoteh >> Suka Dukanya Anak Perantauan
Suka Dukanya Anak Perantauan

Suka Dukanya Anak Perantauan

Menurut sebagian orang, kata perantau, merantau, atau apapun yang berhubungan dengan perantauan masih terdengar asing. Apalagi bagi orang yang bertempat di desa atau tempat-tempat yang bukan tempat perantauan. Tidak semua orang juga yang berkeinginan untuk pergi merantau, karena dibutuhkan keberanian dan tekad yang kuat untuk merantau. Tidak hanya itu, kita juga harus sudah berbekal yang cukup. Karena, untuk melepas semua yang ada di tempat asal itu sangat berat.
Jika sudah mengambil keputusan untuk bekerja atau sekolah di luar kota berarti juga sudah siap untuk tinggal sendiri tanpa orang tua, saudara, sahabat, pacar, binatang peliharaan, juga kamar kesayangan. Harus siap untuk meninggalkan sejenak semua yang ada di kampung halaman dan menerima apapun (yang positif) yang akan didapatkan di kampung orang nanti. Perasaan takut dengan apa yang akan terjadi di tanah perantauan juga sering menghampiri para calon perantau. Tapi memang itu konsekuensi yang harus ditanggung seorang perantau.
Tinggal sendiri dan di kampung orang membuat seorang perantau mengharuskan diri sendiri untuk hidup mandiri dan hemat. Rutinitas yang dijalani akan sangat berbeda dengan rutinitas di rumah. Yang biasanya dibangunkan tidurnya sekarang pakai alarm agar tak kesiangan kerja atau sekolahnya. Yang biasanya pagi sudah ada sarapan di meja makan sekarang harus masak sendiri untuk sarapan. Dan sudah pasti dilakukan dengan sendiri.
Untuk urusan keuangan juga sering jadi masalah. Para siswa perantau mungkin selalu dapat kiriman setiap bulannya, dan para pekerja perantau memenuhi kebutuhan dengan gaji bulanannya. Mereka harus berusaha bagaimana caranya kebutuhan mereka terpenuhi dan tidak kehabisan uang saat akhir bulan. Sering banyak godaan untuk mengeluarkan uang hanya sekedar untuk hiburan, apalagi saat awal bulan. Tidak ada yang mengontrol keuangan membuat perantau sering membelanjakan barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan, dan akan bingung sendiri pada akhir bulan karena uang jajan sudah habis. Mungkin kalian hanya bisa makan mie instan atau telur.
Banyak sekali suka duka yang dialami para perantau, terutama seorang pelajar dan mahasiswa. Bisa dipastikan tempat tinggal kos atau menyewa rumah kontrakan untuk ditinggali beberapa orang. Dukanya anak kos adalah akan melakukan kegiatan selain kegiatan sekolah sendiri. Ketika sakit, sedih, bahagia atau apapun akan dilalui sendiri karena kamar kos yang lain pasti punya kegiatan sendiri. Tidak dengan anak kontrakan, apapun dilakukan bersama. Tapi untuk ini, para perantau akan memiliki banyak konflik walaupun itu teman-teman kamu saat di kampung halaman.Tidak hanya duka, anak kos juga punya suka. Anak kos bisa memilih sendiri kamar yang diinginkan, bisa mendekorasi ruangan yang diinginkan dan tidak akan diganggu oleh teman yang menyebalkan.
Selain itu, kalian para perantau akan mendapatkan teman dari seluruh penjuru Indonesia dan otomatis pintar bersosialisasi dengan orang baru. Dengan itu, wawasan perantau akan luas dan tidak selalu diam ditempat seperti orang yang terperangkap di tempurung. Kalian juga bisa berkeliling tempat perantauan saat musim liburan dengan teman-teman kalian yang ibarat nano-nano. Yang biasanya jalan-jalan ke mall sekarang bisa ke gunung atau pantai untuk merefresh otak setelah sekian lama dipaksa kerja. Ya, kalau teman kalian masih sayang dengan kalian yang rumah asalnya beda pulau, kalau tidak ya mungkin kalian ditinggal sendiri di kos atau kontrakan 😀
Memang, setiap pengalaman pasti ada suka dan dukanya. Sama seperti pengalaman menjadi orang perantauan. Yang harus dilakukan adalah mengambil sisi positifnya dan pelajaran yang membuat kalian menjadi seseorang yang lebih baik. Semoga bisa menghibur kalian para perantau dimana saja kalian berada !

Leave a Reply