Home >> Celoteh >> Jatuh Cinta, Aku Harus Bagaimana?
jatuh cinta dalam diam:)

Jatuh Cinta, Aku Harus Bagaimana?

Jatuh cinta atau mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis adalah hal yang fitrah bagi manusia (normal dan wajar). Tapi yang terpenting adalah bagaimana cara kita menanggapi, memperlakukan dan menyikapi perasaan itu.
Dewasa ini banyak pemuda dan pemudi yang tidak bisa menahan hawa nafsunya lalu menyatakan perasaannya kepada orang yang di cintainya, padahal sendirinya mengaku belum siap untuk menghalalkannya. Jadi, akhirnya mereka memilih jalan yang sesat atau maksiat yaitu Pacaran.
Jadi, seharusnya apa yang harus di lakukan? Yang harus di lakukan adalah DIAM. Diam bagaimana? Aku suka dengannya? Aku ingin memilikinya? Diam jika kamu mengaguminya, diam jika kamu mencintainya, dan diam jika kamu menginginkannya. Rasa cinta tidak usah di utarakan kalau niatnya ingin berpacaran. Kecuali kalau memang niatnya mau menikah dan siap untuk menikah, utarakan rasa cinta itu dengan Khitbah (Lamaran) atau keinginan untuk berta’aruf. Bukan karena apa apa, tapi rasa itu sebaiknya di simpan sebelum kehalalan datang kepada kalian. Karena, mengamankan diri dari fitnah itu lebih mulia daripada kamu menunjukkan hasrat sekalipun itu fitrahnya manusia. Jadi, sebelum melamarnya hendaklah persiapkan diri dan persiapkan hati sejak sekarang.
Sesungguhnya yang mendatangkan rasa jatuh cinta, rasa suka, rasa kagum dan rasa ingin memiliki, adalah Sang Pencipta. Maka dari itu, mulai sekarang sapalah dia dalam setiap doa doamu dan Sebutlah namanya dalam setiap hamparan sajadahmu, Jagalah dia dari setiap pelanggaran yang mungkin ingin kau perbuat dengannya.
Namun jika akhirnya dia memang tidak tercatat untuk kamu miliki, yakinlah Allah akan menghapus cinta dalam diammu. Allah akan menghilangkan perasaanmu untuknya. Dia akan mengganti orang yang lebih baik dan akan menggantikan perasaan yang lebih indah pada orang yang memang tepat untukmu. Begitulah kekuasaannya, Wahai dzat yang membolak balikkan hati.
Nah, kalo caranya ginikan enak. Satu sama lain ga ada yang merasa di rugikan, ga ada yang merasa sakit hati, ga ada yang untung sendiri. Satu sama lain juga masih terjaga dari pelanggaran. Tidak saling mendosakan satu sama lain.
Seperti kisah Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Dua insan manusia yang di landa asmara, mereka saling cinta tapi mereka juga saling menjaga satu sama lain. Menjaga hawa nafsu dan syahwat, menjaga kehormatan dan kemuliaan. Lalu allah mempertemukan mereka dalam jalinan kisah cinta yang indah dan romantis.

Leave a Reply