Home >> Celoteh >> “Asap” selimut Indonesia

“Asap” selimut Indonesia

Pulau Kalimantan dan Sumatera terkena imbas ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Mantan presiden Susilo bambang Yudhoyono pun ikut angkat bicara tentang kabut asap. Ada dua penyebab yaitu; suhu yang tinggi dan pembakaran hutan. “Saya pernah melakukan analisis dan saya meyakini bahwa 70 persen penyebab terjadinya asap di Riau dibakar. Jangan ada dusta di antara kita,” ujar beliau saat memberikan president lecture di Lemhanas, Jakarta, Selasa (8/9/2015)

Dari informasi terakhir ada sekitar 1.143 titik api ditemukan di Sumatera dan 226 titik api di Kalimantan. Ini meninggkat dari hari-hari sebelumnya. Titik titik api tersebut ditemukan diatas tanah miliki 36 perusahaan kertas dan kelapa sawit, dengan tujuan alih fungsi hutan. Banyak dari mereka adalah anak perusahaan suatu negara namun tidaklah mudah untuk membuktikan bahwa perusahaan tersebut yang membakar. Apabila terdapat bukti bahwa perusahaan tersebut yang melakukan maka perusahaan itu kehilangan izin.

Keadaan seperti ini jelas berdampak pada kondisi udara, di Riau tercatat Indeks Standard Pencemaran Udara ( ISPU ) berada di level berbahaya, jauh diatas ambang batas minimum yaitu 350. ISPU di Palangkaraya tercatat 1.912 gram per meter kubik. Memburuknya kualitas udara memburuknya jarak pandang. Akibat dari kabut asap banyak aktifitas yang terganggu. Pemerintah setempat meliburkan sekolah-sekolah karena kabut asap yang tebal, penerbangan pun banyak yang tertunda. Penyakit gangguan pernafasan yang di derita masyarakat setempat pun makin meningkat.

pemerintah pun sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memadamkan titik titik api tersebut namun karena terletak di tanah gambut yang luas dan memiliki karakterisitik jika sudah dipadamkan lalu terkena panas terik matahari akan muncul api kembali, kekeringan yang melanda sebagian besar di Indonesia juga faktor sulitnya api di padamkan dan titik api sulit di jangkau karena keterbatasan akses. Api baru bisa di padamkan jika turun hujan, baik hujan alami atau buatan namun di prediksikan hujan baru akan turun sekitar bulan Oktober, itupun hanya hujan ringan. Pemerintah sekarang hanya bisa mengandalkan hujan buatan melalui pesawat.

#RinduOksigen

Leave a Reply