Home >> Celoteh >> Kasih Sayang Seorang Ayah
Kasih sayang Seorang Ayah tiada Batas

Kasih Sayang Seorang Ayah

Apa yang terlintas dipikiran kita saat mendengar kata Ayah? Sosok yg hebat, tangguh, kuat, dan pengayom untuk keluarga. Tidak hanya mencari nafkah untuk menghidupi Istri dan Anak-anaknya Ayah sudah seperti Pahlawan untuk kita. Apapun akan Ayah lakukan demi kebahagiaan keluarga tercintanya. Terkadang kita merasa benci, kesal bahkan marah ketika apa yang kita lakukan tidak di izini dan dianggap salah oleh Ayah. Tetapi semua itu Ayah lakukan untuk menjaga dan melindungi kita.

Ayah berbeda dengan Ibu. Sangat berbeda. Bukan hanya fisik, tetapi juga sifat dan sikap. Ketika kita masih kecil, menangis merengek meminta dibelikan ini itu, Ibu menatap dengan iba. Berbeda dengan Ayah, dia dengan tegas berkata “Nanti saja kita beli, jangan sekarang!” tahukah kita? Ayah berkata seperti itu karena dia tidak mau anaknya tumbuh menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang harus di penuhi. Ketika kita pilek, Ayah sangat khawatir bahkan sampai membentak “Sudah Ayah bilang, jangan minum es yah jangan minum es. Kamu itu lagi sakit” ketika kita meminta izin untuk keluar malam bersama teman-teman atau pacar, Ayah dengan tegas melarang “Tidak boleh…” itu semua Ayah lakukan untuk menjaga dan melindungi kita.

Kisahku Bersama Ayah.

Waktu itu Ayah memutuskan untuk menyekolahkanku di luar Kota, melanjutkan jenjang SMK ku di Pulau Jawa. Sebenarnya aku sangat sedih, berat rasanya terpisah jauh dari keluarga, teman-teman, sahabat dan Kota yang membesarkanku. Tetapi ayah menyadarkanku bahwa semua itu demi perjuangan. Ayahku ingin melihat anaknya menjadi anak yang sukses di kemudian hari. Bukan untuk kepentingan dirinya, tapi untuk masa depan anaknya ! Ayahlah yang menemaniku menikmati liburan akhir semester di pulau Jawa. Kira-kira sebulan lebih Ayah menemaniku berlibur. Setelah itu Ayah juga yang mengantarkanku mendaftar di Sekolah. Sampai saatnya tiba kita harus berpisah, Ayah harus kembali lagi untuk melanjutkan aktifitasnya. Dan ayah berkata “Nak, Ayah pulang dulu yaa. Kamu jangan nakal disini. Belajar yang baik, jangan malas-malasan” aku hanya menjawab “iya ayah” . Sepuluh menit berlalu, orang yang selalu mendampingiku pun telah beranjak pergi. Dan sekarang aku harus menyadari bahwa sekarang aku hanya sendiri. Benar-benar sendiri. Air mataku pun bercucuran dengan deras. Ayah, Pengorbananmu sangat banyak dan begitu mulia. Doakan aku disini yang sedang berjuang ya Ayah.

Cinta Ayah itu tidak terlihat karena ia tak pandai untuk menunjukannya. Terkadang dalam sedih Ayah memilih untuk berdiam, Dia mampu menepis air matanya karna Tuhan memberinya bahu yang kuat untuk menopang kesedihannya. Dibalik diam dan cueknya sebenarnya Ayah adalah orang yang sangat peduli. Disetiap keringatnya, disetiap lelah nafasnya penuh dengan kasih sayangnya. Kasih sayang yang diberikan tulus, tanpa mengharapkan imbalan sama sekali. tapi sejauh ini apa yang kita berikan untuk Ayah? Kita belum bisa menjadi anak yang baik, anak yang berbakti, masih sering mengabaikan perkataannya dan masih sering mengecewakannya.

Doaku untuk Ayah

Ya Alloh, Berikanlah Ayahku Kesehatan, Kekuatan, Kesabaran, Rezki yang Halal yang Barokah. Semoga Ibuku bisa menjadi Istrinya yg sholehah bisa mendampingi Ayah dalam suka dan duka sampai ajal memisah. Jadikanlah kami anak-anaknya sukses Dunia Akhirot. Hilangkan lah beban yang selalu membebani tenaga dan pikirannya. Kabulkanlah Doa-doa mulianya, Jauhkan dia dari penyakit dan kegelisahan hati. Jangan biarkan dia bersedih, kecewa, menyesal karna ulah kami, Dan Berkahilah Kehidupannya. Amiin 🙂

Leave a Reply