Home >> Gaya Hidup >> Listrik untuk Pemukiman Kumuh

Listrik untuk Pemukiman Kumuh

Beritalamongan.com – selama ini pelanggan perusahaan listrik Negara (PLN) setiap bulanya selalu diberikan tagihan untuk membayar listrik yang telah digunakan. Bagi mereka yang memiliki meteran listrik pasti bisa mengetahui berapa meter yang telah dihabiskan selama satu bulanya. Dengan demikian mereka, pelanggan resmi PLN bisa mencocokan dan mengetahui berapa banyak beban biaya listrik yang harus dibayarkan.

Salah satu pelanggan resmi PLN adalah mereka yang memiliki meteran listrik di rumahnya. Dengan adanya meteran tersebut, listrik yang mengalir lewat kabel bisa masuk ke dalam instalasi listrik yang ada di tiap rumah.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki meteran listrik tetapi bisa mendapatkan listrik?

Fakta terkuak saat pembongkaran bangunan liar yang ada di bawah tol di Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara. Ditemukan dua kabel hitam besar tersambung ke salah satu lampu jalan tol tersebut. Rupanya ratusan bangunan liar yang ada di kolong tol bisa mendapatkan aliran listrik dari kabel tersebut.

Menurut penuturan Agus, salah satu penghuni perumahan semi permanen di bawah kolong tol mengatakan, kabel – kabel tersebut langsung tersambung dengan colokan ke masing – masing rumah warga tanpa melalui meteran listrik.

Jadi, warga pemukiman kumuh baru bisa mendapatkan aliran listrik sesuai dengan waktu penerangan jalan tol. Biasanya pukul 18.00 WIB listrik baru bisa menyala. Dan pukul 06.00 WIB listik akan padam lagi.

Meskipun tidak ada meteran listrik dari PLN, namun warga mengaku masih harus membayar listrik tiap bulanya. Adapun tariff listrik yang dibebankan kepada warga juga bervariasi mulai dari Rp 30.000 sampai Rp 50.000.

Menurut Nisa (28), penghuni pemukiman kumuh di kolong tol, dia harus membayar Rp 30.000 tiap bulanya. Menurut pengakuanya, ada pula tetangganya yang harus membayar Rp 40.000 sampai Rp 50.000.

Nisa mengungkapkan dia dan warga yang lain harus membayar iuran listrik setiap bulanya ke salah satu koordinator. Iuran tersebut kemudian akan diserahkan ke salah satu petugas yang mengaku dari PLN.

“ada petugas PLN yang nagih setiap bulanya. Tetapi, petugas tersebut tidak langsung datang ke setiap rumah warga. Sebab, ada orang lain yang mengumpulkan iuran tersebut,” kata Nisa.

Menurut Camat Penjaringan, Yani Wahyu Purwoko, keberadaan bangunan liar tersebut menyalahi aturan. Bangunan itu dibangun tanpa izin. Selain itu, Yani menambahkan warga yang tinggal di pemukiman liar tersebut juga menggunakan sambungan listrik illegal.

Selain di lokasi tersebut, masih terdapat pemukiman liar lain yang terdapat di kecamatan Penjaringan diantaranya di Kali Adem, Kali Arang, Klai Krendang, Kali Air Baja, Kali Pakin, Kali Tubagus Angke, Kali Asin, Kali Duri, belakang Pos Pol Intan dan di sekitar Rusunawa Tanah Pasir.

Keberadaan pemukiman liar di bawah kolong tol tersebut sangat mengkhawatirkan. Apalagi jika sewaktu – waktu terjadi konsleting listrik maka akan sangat berpengaruh pada konstruksi tol yang ada di atasnya. Bangunan semi permanen tersebut juga dibuat dari kayu yang apabila terjadi kebakaran akan membuatnya seperti perapian raksasa di bawah tol.

Leave a Reply