Home >> Nasional >> Gagal Panen, Warga NTT Makan Makanan Ternak
Warga terpaksa makan makanan ternak ini karena makanan pokok jagung dan beras sudah kosong akibat gagal panen

Gagal Panen, Warga NTT Makan Makanan Ternak

Sedikitnya curah hujan sejak Desember 2014 lalu, membuat lahan pertanian di NTT gagal panen. Akibatnya warga tidak bisa membeli beras dan terpaksa makan makanan ternak. Ada lima desa di kecamatan Kualin yang terpaksa makan makanan ternak diantaranya Desa Kualin, Toineke, Tuafanu, Tuapakas dan Onie. Serta ada dua desa dari kecamatan Amanuban Selatan yakni Desa Oebelo dan Noemuke.

Domi Toni, Ketua RT 14 Dusun Kuafeu mengatakan ada sekitar 130 kepala keluarga di wilayahnya yang makan makanan ternak atau biasa disebut putak. Putak adalah makanan yang biasanya diberikan untuk ternak seperti sapi, babi, kambing dan ayam. Putak terbuat dari batang pohon lontar yang dipotong sekitar 10 sentimeter dengan ketebalan 2 sentimeter kemudian direbus dalam air mendidih sampai matang. Setelah matang, putak siap untuk dimakan.

Warga NTT khususnya dari dua kecamatan tersebut sangat berharap nasib mereka didengar oleh Jokowi. Bahkan mereka berharap Jokowi bisa datang ke kampung mereka dan makan putak bersama mereka.

Warga terpaksa makan makanan ternak ini karena makanan pokok jagung dan beras sudah kosong. Karena yang ada hanya putak, maka mau tidak mau mereka mengkonsumsi makanan ternak tersebut. Bahak anak – anak di dua kecamatan tersebut juga ikut mengkonsumsinya.

Dua anggota DPD RI, Parlindungan Purba dan Ibrahim Agustinus Medah, yang telah mengetahui kondisi sulit pangan ini kemudian memberikan bantuan pada warganya pada Sabtu kemarin (20 / 6 / 2015). Begitu pun dengan pemerintah pusat melalui Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang telah melakukan kunjungan ke Kecamatan Amanuban Selatan dan Kecamatan Kualin.

Menurut pengakuan salah seorang warga, Yoksan Nenabu, mengatakan dia telah mengalami tiga kali gagal tanam mulai dari Desember 2015, Januari 2015 dan Februari 2015. Berbagai tanaman seperti ubi, jagung dan kacang yang ditanam di lahan seluas satu hektarnya mengalami kegagalan akibat tidak ada hujan yang turun. Akibat kegagalan ini, dia mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah.

Untuk menyambung hidupnya, Yoksan menjual laru atau minuman dari pohon lontar. Hasil penjualanya dia gunakan untuk membeli beras. Tetapi jika stok berasnya habis, dia dan keluarganya terpaksa makan putak.

Leave a Reply