Home >> Nasional >> Monumen Peringatan Stop Kekerasan Anak

Monumen Peringatan Stop Kekerasan Anak

Kasus pembunuhan Engeline yang menyedot perhatian banyak orang termasuk salah satunya adalah Komnas Perlindungan Anak. Bahkan untuk mengusut kematian Engeline ini, mereka dengan getol bertindak untuk membantu penyelidikan. Komnas Perlindungan Anak sempat bertandang ke rumah orang tua angkat Engeline namun tidak berhasil masuk karena diusir oleh Margriet, ibu angkat Engeline. Dari kejadian ini, mereka kemudian mencium kejanggalan dengan laporan hilangnya Engeline dan kematian Engeline. Komnas Perlindungan Anak juga mencium adanya indikasi penelantaran anak kepada Engeline. Kasus pembunuhan Engeline hingga saat ini masih terus di dalami oleh petugas guna mencari keterkaitan antara penelantaran anak dengan kematian Engeline.

Selain membantu pengusutan kasus pembunuhan Engeline, Komnas Perlindungan Anak juga berencana akan membangun monumen peringatan stop kekerasan anak. Monumen ini juga dimaksudkan agar orang belajar dari kasus Engeline supaya menghentikan kekerasan terhadap anak.

Menurut ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, “Engeline adalah ikon perjuangan anti kekerasan terhadap anak.”

Rencana pembangungan monumen untuk mengenang Engeline juga sudah mendapatkan respon yang positif dari walikota Denpasar dan Pemerintah Provinsi Bali, ujar Arist. Sekarang tinggal mencari lokasi atau tempat yang tepat untuk membangun monumen peringatan stop anti kekerasan anak tersebut. Ketua Komnas Perlindungan Anak ini telah memohon kepada Walikota Denpasar dan menurutnya akan dicarikan tempat ruang terbuka hijau untuk monumen tersebut.

Forum Andak Daerah Bali didukung Komnas Perlindungan Anak dan Wali Kota Denpasar menjadikan Sabtu (20 / 6 / 2015) sebagai momentum untuk mendeklarasikan stop kekerasan terhadap anak. Deklarasi tersebut diadakan tepat di depan rumah Engeline yang beralamatkan di jalan Sedap Malam, Denpasar.

Banyak pihak yang mendukung pembangunan monumen peringatan stop kekerasan anak. Pasalnya, tingkat kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga di negeri ini cukup tinggi. Kekerasan terhadap anak biasanya juga dibarengi dengan penelantaran terhadap mereka. Kembali ke kasus Engeline, banyak orang yang menyatakan Engeline juga tidak mendapatkan perawatan yang baik dari keluarga angkatnya. Bahkan ketika bocah 8 tahun itu pergi ke sekolah, penampilanya sering terlihat tidak rapi dan bau badanya tercium seperti bau ayam.

Leave a Reply